Blog

/

Cara Membuat Nine Box Matrix untuk Evaluasi Karyawan Tanpa Ribet

Cara Membuat Nine Box Matrix untuk Evaluasi Karyawan Tanpa Ribet

Sakura System Solutions 24 Nov 2025

Cara Membuat Nine Box Matrix untuk Evaluasi Karyawan Tanpa Ribet

Apa Itu Nine Box Matrix?

Nine Box Matrix adalah alat evaluasi karyawan berbentuk matriks 3×3 yang mengukur kinerja dan potensi. Hasil analisis ini membantu HR mengidentifikasi talent terbaik, menentukan program pengembangan, hingga merencanakan suksesi. Karena itu, memahami cara membuat Nine Box Matrix menjadi penting agar proses evaluasi lebih objektif dan terstruktur.

Model ini populer di manajemen SDM karena:

  • Mudah digunakan
  • Memberikan gambaran jelas tentang posisi tiap karyawan
  • Mendukung keputusan berbasis data

Dengan memahami cara membuat Nine Box Matrix, HR bisa melakukan Talent Management dengan lebih cepat, terstruktur, dan minim bias.

Mengapa Penting Memahami Cara Membuat Nine Box Matrix?

1. Identifikasi Talent Secara Akurat

Perusahaan dapat dengan cepat melihat siapa “future leader”, siapa yang butuh coaching, dan siapa yang perlu perbaikan mendasar.

2. Mendukung Perencanaan Karir

Hasil Nine Box Matrix mempermudah penyusunan rencana suksesi dan jenjang karir karyawan.

3. Meningkatkan Objektivitas HR

Evaluasi tidak lagi hanya berdasarkan opini manajer. Semua keputusan didukung data potensi dan performa.

4. Efisiensi Proses Evaluasi

Tidak perlu banyak rapat untuk menentukan status karyawan. Matriks ini menjadi acuan visual yang jelas.

Cara Membuat Nine Box Matrix untuk Evaluasi Karyawan Tanpa Ribet

Berikut panduan paling praktis yang bisa langsung kamu terapkan di perusahaan.


1. Tentukan Tim Penilai

Agar objektif, proses harus melibatkan:

  • HR
  • Atasan langsung
  • Manajer departemen

Tujuannya untuk mengurangi bias personal dan memastikan sudut pandang yang seimbang.


2. Tentukan Kriteria Kinerja dan Potensi

Langkah paling penting dalam cara membuat Nine Box Matrix adalah menyamakan definisi.

Kriteria Kinerja (Performance):

  • Pencapaian KPI
  • Kualitas kerja
  • Konsistensi
  • Kecepatan dan akurasi

Kriteria Potensi (Potential):

  • Kemampuan leadership
  • Kemampuan belajar cepat
  • Inisiatif & adaptasi
  • Kemampuan menangani peran lebih besar

Buat skala: Low – Medium – High.


3. Buat Skala Penilaian yang Terukur

Agar hasil konsisten, gunakan angka. Contoh:

Performance:

  • High = >110% target
  • Medium = 90 – 110%
  • Low = <90%

Potential:

  • High = sering menunjukkan inisiatif, mampu handle role lebih tinggi
  • Medium = konsisten dan berkembang
  • Low = minim adaptasi, kesulitan dengan perubahan

4. Buat Matriks 3×3

Bisa menggunakan Excel, Google Sheet, atau HRIS.

Nine Box Matrix SPISy
Gambar: Nine Box Matrix SPISy

Setiap kotak memiliki nama untuk mempermudah analisis, misalnya:

  • Star (High–High)
  • Growth Employee
  • Enigma
  • High Impact Contributor
  • Effective Employee

5. Masukkan Data Karyawan

Gunakan data berikut:

  • Hasil performance review
  • Hasil penilaian kompetensi
  • Feedback atasan
  • Riwayat prestasi
  • Assesment potensi

Tujuan: setiap orang ditempatkan pada posisi yang paling menggambarkan kondisinya.


6. Interpretasikan Hasilnya

Setelah karyawan ditempatkan di 9 kotak, berikut hal yang perlu dianalisis:

a. Sebaran Talent

Apakah terlalu banyak di performa rendah? Apakah terlalu sedikit high potential?

b. Risiko Organisasi

Jika “star employee” hanya 1–2 orang, perusahaan rentan kehilangan talent.

c. Kebutuhan Pengembangan

Setiap kotak punya strategi penanganan berbeda.


7. Buat Action Plan

Ini inti dari Nine Box Matrix.

High Performance – High Potential (Star)

Dipersiapkan untuk posisi strategis, pelatihan leadership.

High Performance – Low Potential

Retensi & penghargaan, bukan promosi ke jabatan besar.

Low Performance – High Potential

Coaching intensif, mentoring.

Low – Low Zone

Evaluasi ulang kecocokan posisi, pelatihan dasar, atau repositioning.

Action plan inilah yang membuat Nine Box bukan sekadar gambar tapi alat strategis HR.


8. Review Secara Berkala

Nine Box bukan alat sekali pakai. Lakukan evaluasi tiap:

  • 6 bulan, atau
  • 1 tahun, tergantung kebutuhan perusahaan

Contoh Penerapan Nine Box Matrix (Sederhana)

Misal perusahaan memiliki 20 karyawan:

  • 4 orang masuk kategori Star → disiapkan untuk promosi.
  • 5 orang High Performer – Medium Potential → diberi proyek strategis.
  • 3 orang Low Performance – High Potential → coaching.
  • 8 orang berada di kotak tengah (medium-medium) → perlu training dan monitoring.

Dengan ini HR punya strategi jelas dalam 1–2 halaman saja.


Tips Membuat Nine Box Matrix Agar Proses HR Lebih Mudah

  • Gunakan template Excel siap pakai
  • Lakukan penilaian potensi dengan tools psikometri
  • Gunakan HRIS SPISy agar proses lebih cepat & akurat
  • Pastikan penilai mengikuti training anti-bias
  • Komunikasikan tujuan Nine Box ke karyawan agar tidak menimbulkan ketakutan

|Baca juga: Perbedaan Potensi vs Kinerja dalam Nine Box Matrix yang Wajib Dipahami HR

Kesimpulan: Optimalkan Penilaian Kinerja Karyawan dengan Nine Box Matrix

Menggunakan nine box talent membantu perusahaan menilai kinerja dan potensi karyawan secara objektif, akurat, dan terstruktur. Dengan menerapkan metode ini, HR dapat membuat keputusan yang lebih strategis dalam pengembangan karyawan, promosi, hingga succession planning.

Jika perusahaan Anda ingin menerapkan nine box matrix secara praktis tanpa proses manual yang rumit, SPISy SaaS menyediakan fitur Nine Box di bagian Training and Development.

Mulailah transformasi pengelolaan SDM Anda dengan analisis yang lebih cerdas dan akurat bersama SPISy.

© 2024 PT Sakura System Solutions. All rights reserved.